Portalterkini.com – Musi Rawas, Sebelum Upacara Tradisi Sedekah Bumi pemerintah bersama masyarakat kampung Tribina Bali Dusun Tuju Desa suro pagi menjelang siang melaksanakan giat gotong royong.
Setelah selesai melakukan giat gotong royong warga Tribina Bali Dusun tujuh Desa Suro, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas (Mura), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Kamis (11/07/2024), pada malam hari jam 18:30 Wib berlangsung dilaksanakan giat Upacara Sedekah Bumi / bersi Desa, Alhamdulillah berjalan dengan lancar tiada halangan sesuatu apapun.
Kegiatan sedekah bumi sesepuh kampung tujuh Sumardi menyampaikan, sebelum upacara tradisi sedekah bumi dimulai maka dilakukan persiapan yang berhubungan dengan perlengkapan yang diperlukan dalam ritual, adapun perlengkapan yang harus disiapkan antara lain:
Tumpeng (nasi kerucut), Rasulan (ayam ingkung), nasi golong, ketan hitam, sego liwet (nasi liwet), jenang Abang putih, jajanan kecil khas daerah. Semua perlengkapan tersebut mempunyai makna sendiri-sendiri, misalnya,
1. Nasi golong berbentuk bulat-bulat disini Mempunyai makna melambangkan yaitu untuk mengingati hari, seperti hari pasaran ada lima contoh hari legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.
2. Nasi tumpeng melambangkan memohon kekuatan dari yang Maha kuasa, supaya kita dikuatkan iman dimurahkan rezeki, dikuatkan lahir batin.
3. Ketan hitam mempunyai makna melambangkan suatu taktik masyarakat untuk mencapai tujuan
4. Rasulan kalau dalam kata orang Jawa itu adalah ingkung mempunyai makna yaitu mengingatkan kita kepada Rasulallah supaya syafaatnya diberikan kepada umatnya.
5. Jenang abang putih mempunyai makna yaitu ditujukan kepada leluhur kedua orang tua yang sudah meninggal.
6. Jajanan kecil dan makanan khas daerah, mempunyai makna sebagai ungkapan rasa kasih sayang kepada anak-nak kecil.
Setelah semua perlengkapan selesai dipersiapkan kemudian semua perlengkapan upacara dibawa ke rumah kepala dusun untuk di doakan oleh seorang pemuka agama atau sesepuh desa setempat.
Usai didoakan kemudian perlengkapan upacara diserahkan kembali kepada masyarakat yang membuatnya.
Nasi tumpeng dan jajanan khas daerah yang sudah didoakan oleh sesepuh kampung atau pemuka agama setempat kemudian dimakan secara beramai-ramai oleh masyarakat yang merayakan acara sedekah bumi tersebut.
Namun ada juga sebagian masyarakat yang membawanya pulang untuk dimakan beserta sanak keluarganya di rumah masing-masing.
Adapun makna dari upacara tradisi Sedekah Bumi Desa suro adalah merupakan salah satu simbol bagi masyarakat khususnya petani untuk menunjukkan rasa cinta kasih sayang dan sebagai penghargaan manusia atas bumi yang telah memberikan penghidupan bagi manusia.
Di samping itu juga merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang telah dilimpahkan kepada masyarakat desa desa suro.
Makna simbolis yang dapat diambil pada Upacara Sedekah Bumi kampung tujuh Desa Suro rasa kebersamaan, kegotongroyongan dan merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa cinta kepada bumi serta sebagai curahan rasa syukur kepada Tuhan Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam kegiatan upacara sedekah bumi tersebut kepala desa melalui sekdes desa suro Edi Akbar sanjani saat diwawancarai awak media ia mengatakan.
“Tradisi Sedekah Bumi tersebut dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas limpahan rizki yang diterima oleh masyarakat Desa suro, merupakan tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun dari nenek moyang, hal ini dilakukan satu sekali dalam setahun,” ujar Edi.
Masih lanjut Edi dengan ada nya kegiatan sedekah bumi ini ia berharap kepada masyarakat yang ada di desa suro.
“Harapan saya dengan kegiatan positif ini dapat mempererat tali silaturahmi antara umat beragama biarpun berbeda keyakinan tapi tetap satu tujuan untuk mendukung program desa yang lebih baik lagi.
Jangan ada perpecahan antara suku dengan suku lain atau hujatan dari pihak lain nya kita tetap bersatu teguh dalam persatuan kesatuan masyarakat desa dengan pemerintah.” tutup Sekdes Desa Suro.
Hadir dalam acara tersebut Pemerintah Desa, BPD, toko adat, toko masyarakat, toko agama, sesepuh kampung Tujuh, karangtaruna dan warga masyarakat desa suro.
(Andi YM)























