PORTALTERKINI.COM – KONAWE, PC PMII Kabupaten Konawe menyoroti serius peristiwa sejumlah siswa SMA Negeri 1 Tongauna yang dilarikan ke Rumah Sakit Kabupaten Konawe pada Kamis, 24 September 2026, setelah diduga mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan pemberitaan yang beredar, sekitar 27 siswa dilaporkan mendapatkan perawatan. Sejumlah siswa disebut mengalami kondisi lemas dan muntah setelah mengonsumsi makanan MBG. Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih memerlukan pemeriksaan medis dan uji laboratorium.
Ketua PC PMII Kabupaten Konawe, Harbiansyah, menilai kejadian tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Menurutnya, ketika sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang diduga berasal dari program MBG, pemerintah dan pihak terkait harus segera melakukan investigasi secara menyeluruh.
“Kami meminta seluruh pihak tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian ini. Tetapi ketika puluhan siswa harus mendapatkan perawatan setelah mengonsumsi makanan MBG, maka pemerintah wajib melakukan investigasi secara menyeluruh dan transparan,” tegas Harbiansyah.
PMII Konawe meminta pemeriksaan dilakukan terhadap seluruh tahapan penyediaan makanan, mulai dari kualitas bahan baku, proses pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, ketahanan makanan hingga proses distribusi dari SPPG ke sekolah.
PMII Desak SPPG Tongauna Dihentikan total
Selain meminta investigasi, PC PMII Kabupaten Konawe mendesak agar operasional SPPG yang menyalurkan makanan MBG di Kecamatan Tongauna dihentikan total sampai proses pemeriksaan dan evaluasi selesai dilakukan.
Desakan tersebut disampaikan sebagai langkah pencegahan untuk memastikan tidak ada lagi siswa yang menjadi korban sebelum keamanan makanan benar-benar dapat dipastikan.
“Kami mendesak SPPG yang menyalurkan MBG di Kecamatan Tongauna untuk dihentikan total sampai seluruh proses pemeriksaan selesai. Jangan distribusikan kembali makanan kepada siswa sebelum ada kepastian bahwa makanan tersebut aman dan memenuhi standar kesehatan,” ujar Harbiansyah.
PMII Konawe menegaskan bahwa penghentian total tersebut bukan merupakan vonis bahwa SPPG telah terbukti menjadi penyebab kejadian. Namun, langkah tersebut dinilai penting untuk memberikan ruang bagi aparat dan instansi berwenang melakukan pemeriksaan secara objektif.
Jangan Sampai Program MBG Mengorbankan Keselamatan Siswa
Menurut PMII Konawe, program MBG memiliki tujuan meningkatkan pemenuhan gizi peserta didik. Karena itu, aspek keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaannya.
“Tujuan program MBG sangat baik, tetapi pelaksanaannya harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat. Jangan sampai program yang seharusnya meningkatkan kesehatan dan gizi siswa justru menimbulkan persoalan kesehatan karena lemahnya pengawasan,” tegasnya.
PMII Konawe juga meminta pemerintah memastikan seluruh pengelola SPPG memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan. Apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya kelalaian atau pelanggaran, maka pihak yang bertanggung jawab harus diberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
PMII Konawe Desak Pemeriksaan Sampel Makanan
PMII Konawe meminta agar sampel makanan yang dikonsumsi para siswa segera diperiksa di laboratorium berwenang untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Selain itu, hasil pemeriksaan kesehatan siswa dan hasil uji laboratorium terhadap makanan juga diminta disampaikan kepada publik secara transparan agar tidak terjadi spekulasi dan informasi yang simpang siur di tengah masyarakat.
“Kami ingin persoalan ini dibuka secara terang. Kalau memang ada masalah pada makanan, harus diketahui di mana letak masalahnya. Apakah pada bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi atau faktor lainnya. Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan informasi bahwa siswa sakit, tetapi tidak pernah mengetahui penyebab dan hasil evaluasinya,” kata Harbiansyah.
Tujuh Poin Desakan PMII Konawe
Atas kejadian tersebut, PC PMII Kabupaten Konawe mendesak:
1. Menghentikan sementara operasional SPPG di Kecamatan Tongauna sampai investigasi dan evaluasi selesai.
2. Melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG yang dikonsumsi para siswa.
3. Memeriksa seluruh proses pengolahan, penyimpanan dan distribusi makanan dari SPPG hingga sekolah.
4. Memastikan seluruh siswa yang terdampak mendapatkan penanganan kesehatan secara maksimal.
5. Melakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab apabila ditemukan adanya kelalaian atau pelanggaran.
6. Membuka hasil pemeriksaan kepada publik secara transparan.
7. Apabila terbukti terdapat pelanggaran standar keamanan pangan, memberikan sanksi sesuai ketentuan hukum dan melakukan evaluasi terhadap pengelola SPPG.
“Kami akan terus mengawal persoalan ini. Keselamatan siswa harus menjadi prioritas. Jangan sampai persoalan ini berhenti hanya pada penanganan korban di rumah sakit. Harus ada investigasi, evaluasi dan pertanggungjawaban apabila ditemukan pelanggaran,” tutup Harbiansyah.
PC PMII Kabupaten Konawe menegaskan akan mengawal pelaksanaan program MBG di Konawe agar berjalan sesuai standar keamanan pangan dan benar-benar memberikan manfaat bagi para siswa.



































