Portalterkini.com, Palembang – Musda I Dewan Pembina Daerah (DPD) Asosiasi Pengawas Ketenagakerjaan Indonesia (APKI) Sumsel 2021dilaksanakan di Hotel Fave, Jumat (25/9/2021).
Panitia Stering Comite Musda I Dewan Pembina Daerah (DPD) Asosiasi Pengawas Ketenagakerjaan Indonesia (APKI) Sumsel 2021 Marihot Sianipar mengatakan, ” Musda ini meneruskan kesepakatan bersama APKI.”Kita musda kita ada program bersama untuk ditindaklanjuti. Menunjang kebershasilan pengawas ketenagakerjaan,” katanya.
- Ombudsman Lampung Kirim SPDP Kepada DPP KAMPUD: Segera Periksa Ulin Nuha Kepala BPN Bandar Lampung
- Jalan Buntu Negosiasi: PT TRK Tuding PT Vale Pakai Lahan Tanpa Izin dan Beroperasi di Luar IUP
- Karyawan PT Konutara Sejati Meninggal di Mess, DPD KNPI Konawe Utara Desak Investigasi Transparan
- Minim Pengawasan dan Abaikan K3: Proyek PUPR Konawe Rp8,1 Miliar Disorot, Disebut Milik Oknum Anggota DPRD Kendari
- Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026, Adira Finance Hadirkan “Terima Kasih Sahabat” di Kota Kendari
Dalam Musda ini ada enam calon yakni Tina Suzan, Sahadi, Fangky, Mat Nursan, A Riadi dan Marlian.APKI ini adalah fungsional pengawas tenagakerjaan, fungsional diarahkan ada organisasi untuk menunjang kinerja.
“Tujuan asosiasi ini menunjang kinerja pengawas, kemampuan, pemenuhan angka kredit. Anggotanya fungsional pengawas di Disnaker Provinsi Sumsel ada 56 orang pengawas,” imbuhnya.
Dengan adanya asosiasi ini, kinerja pengawas terbantu. Keternagakerjaan, lingkup kerja diburuh atau perusahaan bisa dikomunkasikan dengan baik, jadi dunia usaha dan pekerja dapat dibersinergi.
” Setelah dilakukan voting yang terpilih menjadi Ketua Dewan Pembina Daerah (DPD) Asosiasi Pengawas Ketenagakerjaan Indonesia (APKI) Sumsel periode 2021-2024 MatNursan,” tandasnya.
Sementara itu, Kabid Pengawasan Disnaker dan Transmigrasi Provinsi Sumsel Erman Rasul mengatakan, terkait pemilihan Dewan Pembina Daerah (DPD) Asosiasi Pengawas Ketenagakerjaan Indonesia (APKI) Sumsel 2021, ada enam peserta yang jadi kandidat. “Kita terkejut antusias pesertanya banyak. APKI ini punya perananan penting untuk peningkatan SDM pengawas,” paparnya.
Erman Rasul mengatakan, di Sumsel ada 6 ribu lebih perusahaan. Sedangkan pengawas hanya 56 orang itu tidak memadai, karena luasnya wilayah Sumsel. Idealnya satu wilayah atau daerah itu ada 10 pengawas. Tapi kita sekarang baru ada 56 pengawas.
“Yang paling banyak diadukan karyawan saat ini adalah masalah upah dan kecelakaan kerja. Upah itu ada standarnya UMK atau UMP, mestinya sama atau diatas itu. Tapi kebanyakan dibawah UMK dan UMP. Di masa pandemi ini, pembayaran upah tidak sesuai UMK dan UMK itu banyak diadukan. Dan perusahaan berdalil tidak bisa lagi membayar upah sesuai dengan UMK atau UMP karena dampak pandemi,” paparnya.
Pengaduan itu, lanjut Erman, dari serikat kerja, atau karyawan. Itu ditindaklanjuti dengan memuat nota satu, nota dua atau peringatan.
“Sepanjang tahun ini ada aduan diatas 50. Kita upayakan mediasi, kita datang ke perusahaan mencari solusi supaya ada kesepakatan. Kalau dalam mediasi tetap tidak ada kesepakatan ya kita lanjutkan ke kepolisian , mampu atau tidak perusahaan membayar hak karyawan, itu bisa masuk ranah pidana. Apalagi untuk kecelakaan kerja, jika tidak diurusi pemilik usaha, itu masuk tindak pidana. UU tenga kerja itu kan jelas dalam UU Omnibuslaw dengan turunan-turunanya,” bebernya.
Erman menuturkan, jika ada perusahaan yang tidak melaksanakan kewajiban, karyawan bisa datang ke Disnaker dan Transmigrasi Provinsi Sumsel di bagian pengawasan. “Datang ke kami dengan berkas, daftar hadir, daftar gaji, itu bisa kita tindaklanjuti. Bagian pengasawan itu berkaitan dengan norma kerja di Perusahaan meliputi upah,kecekalaan kerja, keselamatan kerja, kesehatan kerja,” pungkasnya. (Ocha)



































