Scroll untuk baca artikel
banner 1600x458
Example floating
Example floating
banner 1600x458
NASIONAL

Pesan Koornas Presidium Pemuda Barat : Jangan Wariskan Konflik, Ubah Perdamaian Menjadi Kekuatan Pembangunan Aceh

×

Pesan Koornas Presidium Pemuda Barat : Jangan Wariskan Konflik, Ubah Perdamaian Menjadi Kekuatan Pembangunan Aceh

Sebarkan artikel ini

PORTALTERKINI.COMBANDA ACEH, Koordinator Nasional Presidium Pemuda Barat, Rifqi Maulana, S.H., mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh, khususnya generasi muda, menjadikan momentum perdamaian sebagai energi baru untuk memperkuat persatuan dan mempercepat pembangunan.

Menurut Rifqi, Aceh telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Karena itu, generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan perdamaian tidak berhenti sebagai sebuah peristiwa yang diperingati, tetapi menjadi fondasi bagi lahirnya kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik.

“Pesan saya sederhana: jangan wariskan konflik kepada generasi berikutnya. Wariskan perdamaian, pendidikan, kesempatan dan masa depan. Kita sudah belajar dari sejarah, sekarang saatnya membuktikan bahwa perdamaian mampu melahirkan kemajuan.”

Rifqi mengatakan berbagai perbedaan pandangan yang muncul di tengah masyarakat merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Perbedaan tersebut, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk kembali membangun sekat antarsesama anak bangsa.

“Berbeda pandangan itu biasa. Yang tidak boleh adalah perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan. Kalau ada persoalan hukum, mari kita selesaikan melalui hukum. Kalau ada perbedaan kebijakan, mari kita dudukkan bersama. Jangan sampai persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan dialog justru berkembang menjadi ketegangan di masyarakat.”

Pemuda Harus Menjadi Pemersatu

Rifqi menilai pemuda memiliki posisi strategis dalam menjaga suasana Aceh tetap kondusif. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi kelompok yang menyuarakan kritik, tetapi juga harus mampu menawarkan gagasan dan terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan.

“Pemuda harus naik kelas. Jangan hanya menjadi penonton dan komentator. Jadilah bagian dari solusi. Masuk ke ruang pendidikan, ekonomi, hukum, teknologi, pemerintahan dan dunia usaha. Dari sanalah kontribusi nyata untuk Aceh dibangun.”

Ia menyebut tantangan Aceh saat ini jauh lebih luas dibandingkan persoalan masa lalu. Persaingan ekonomi, perkembangan teknologi, kualitas sumber daya manusia dan kebutuhan lapangan kerja harus menjadi perhatian bersama.

Karena itu, Rifqi mengajak organisasi kepemudaan, mahasiswa, akademisi, pelaku usaha dan pemerintah membangun agenda bersama yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Kita harus menggeser energi perdebatan menjadi energi pembangunan. Kalau anak muda berkumpul, yang dibicarakan jangan hanya siapa yang berbeda dengan kita, tetapi bagaimana menciptakan lapangan kerja, bagaimana membangun ekonomi daerah, bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan dan bagaimana membawa Aceh bersaing di tingkat nasional.”

Perdamaian Harus Menghasilkan Kesejahteraan

Menurut Rifqi, keberhasilan perdamaian tidak hanya ditandai dengan berakhirnya konflik. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat merasakan manfaat perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.

“Perdamaian harus hadir di meja makan rakyat. Harus hadir di sekolah, di kampus, di pasar, di tempat usaha dan di lapangan pekerjaan. Ketika masyarakat mendapatkan rasa aman, pendidikan yang baik dan kesempatan ekonomi, saat itulah perdamaian benar-benar memiliki arti.”

Ia juga mendorong pemerintah untuk terus membuka ruang dialog dengan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan Aceh.

Menurutnya, pemerintah dan masyarakat tidak seharusnya ditempatkan dalam posisi berhadap-hadapan. Keduanya harus menjadi mitra dalam membangun daerah.

“Pemerintah membutuhkan kritik yang sehat, masyarakat membutuhkan pemerintah yang terbuka. Keduanya harus saling menguatkan. Jangan membangun pemerintahan dengan kecurigaan, dan jangan pula membangun gerakan masyarakat dengan prasangka. Yang kita butuhkan adalah kepercayaan dan komunikasi.”

Aceh Harus Menatap Masa Depan

Rifqi menegaskan bahwa menghormati sejarah tidak berarti harus terus hidup dalam bayang-bayang konflik. Justru sejarah harus menjadi pelajaran agar generasi berikutnya tidak mengulangi kesalahan yang sama.

“Kita hormati semua sejarah dan perjuangan yang telah dilalui. Tetapi jangan biarkan anak-anak kita mewarisi luka. Biarkan mereka mewarisi semangat, pengetahuan dan kesempatan. Tugas generasi sekarang adalah memastikan masa depan mereka lebih baik daripada masa lalu kita.”

Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang berpotensi memecah belah.

“Aceh tidak membutuhkan lebih banyak sekat. Aceh membutuhkan lebih banyak jembatan. Jembatan antara pemerintah dan rakyat, antara generasi tua dan generasi muda, antara dunia pendidikan dan dunia usaha, serta antara Aceh dengan Indonesia dan dunia.”

Rifqi menutup pesannya dengan mengajak seluruh pemuda menjadikan perdamaian sebagai titik awal untuk melangkah lebih jauh.

“Tidak penting siapa yang paling keras berbicara tentang Aceh. Yang lebih penting adalah siapa yang paling banyak memberikan manfaat untuk Aceh. Mari kita buktikan kecintaan kepada daerah dengan kerja nyata. Bersatu bukan berarti harus seragam. Bersatu berarti mampu berjalan bersama untuk tujuan yang lebih besar.”

“Jangan wariskan konflik. Wariskan masa depan. Karena Aceh yang damai harus menjadi Aceh yang maju, sejahtera dan bermartabat.”

Example 120x600